Sengsara

 Kesengsaraan akan selalu hadir ketika hidup belum menemukan kebebasan. 

    Pernahkah kita sejenak berpikir tentang hidup yang kita jalani, apa saja yang pernah kita lalui, siapa saja yang pernah kita jumpai, atau apakah sebenarnya makna kehidupan ini. begitu banyak cerita kadang begitu sulit kadang begitu menyenangkan kemudian sulit lagi. keadaan ini terus berulang meskipun bentuknya berbeda. Saya ingin bagikan pengalaman saya tentang menemukan roda kesengsaraan yang terus berulang, yang sesungguhnya ada tetapi sering tidak diperhatiakn.

    Ketika remaja saya bermimpi banyak hal. saya ingat dulu pernah diajarkan untuk membuat buku harapan, isinya tentang hal-hal yang ingin dicapai. banyak gambar, banyak catatan semua tentang khayalan masa depan.

    Waktu berlalu dan saya melihat kehidupan saya berjalan sesuai alur buku harapan tersebut. Memang tidak sama persis tetapi secara garis besar kehidupan yang saya jalani saat itu seperti catatan saya pada buku tersebut. mungkin ini yang disebut dreams come true.

    Seharusnya saya bahagia tetapi ternyata saat itu saya bersedih. ada satu titik yang saya rela kehilangan semua pencapaian saya. saya ingin sekali berhenti dari keinginan tersebut. saat itu adalah saat yang kacau, saya memilih cuti kuliah disemester ke enam, saya memutuskan resign dari pekerjaan yang sudahh empat tahun saya jalani, saya memilih mundur dari keadaan yang saya dambakan.

   Sangatlah tidak masuk akal memang tetapi semua terjawab oleh suatu pernyataan "karena kelemahan hati manusia" sesungguhnya hati manusia sangatlah lemah. gampang sekali terluka oleh keadaan oleh seseorang atau banyak orang dan anrhnya kita selalu bertemu denganhal semacam itu. keadaan yang tidak baik, orang yang tidak baik. datang silih berganti.

    Hingga suatu perenungan memunculkan sebuah jawaban, kesengsaraan ini datang dari keinginan itu sendiri. saya berekspektasi tentang sesuatu, kemudian kecewa kemudian bersedih. kesengsaraan itu terasa sangat menyakitkan. hingga saya memutuskan melepaskan semua yang saya inginkan. tetapi bagaimana caranya hidup tanpa keinginan? Hidup dimasa depan yang masih berupa khayalan hanya akan menciptakan sengsara. Hiduplah saat ini dengan sebaik-baiknya, bersyukur untuk setiap hal yang diterima jika baik merupakan sebuah keuntungan tetapi jika buruk merupakan sebuah pelajaran.

    Perlahan kita akan menghayati apa sesungguhnya kesengsaraan itu dan bagaimana cara melepaskannya untuk memperoleh kedamaian dan kebahagiaan.



Komentar